Resika Caesaria, 23 tahun, mampu membangkitkan semangat wirausaha dalam dirinya dan menularkan kepada lingkungannya. Usahanya berbentuk franchise makanan ringan, cimol, kudapan dari tepung singkong, kini sudah memiliki 60 mitra yang berasal dari kalangan ekonomi lemah dan pengangguran.
Made Arizka, begitu nama badan usahanya, menerapkan gratis satu poin seharga Rp 1.000 untuk setiap mitra usaha yang membeli cimol di atas Rp 50 ribu.
Jika berusaha, selalu ada jalan. Itu pula yang dialami Resika ketika memiliki ide membuat cimol untuk menopang ekonomi keluarganya saat itu. Lambat laun Cimol, kudapan berbahan baku tepung singkong, buatan Resika ini semakin banyak diminati pembeli.
Ia mengenang masa sulitnya pada usia kanak-kanak. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat keluarganya terus bertahan.
![]() |
| Kisah Sukses Ratu Cimol Banyumas |
“Saya tidak tahu benar bagaimana kedua orang tua kami bisa menghidupi dan meyekolahkan kami semua,” kata perempuan kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 5 mei 1991 itu.
Saat itu, bapaknya yang bekerja sebagai sopir bus sering mengalami kecelakaan karena matanya kian buram. Ketika ekonomi sedang labil itulah Resika, membuat cimol, kudapan dari tepung singkong.
“Saya masih kelas III SMP. Uang tabungan dari celengan Rp 63.000 menjadi modal saya membeli aci atau tepung tapioca untuk membuat cimol. Saya pun menjualnya dengan menitip di kantin-kantin,” kata dia berkisah.
Perlahan, cimol buatan Resika banyak diminati. Tapi tentu masih belum bias memulihkan perekonomian keluarganya. Lulusan Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Harapan Bangsa, Purwokerto, ini nyaris tidak bisa masuk SMA, karena tidak ada biaya.
Untunglah ada Marsiani Lestari, kakak pertamanya yang sudah menjadi bidan dan bisa membiayainya dan melanjutkan pendidikan ke bangku SMA.
Cika, begitu ia akrab disapa, tetap membawa dan menitipkan cimol buatannya ke kantin sekolahnya dan sekolah-sekolah lain. Sejak dulu Cika dikenal seperti itu, sejak SMP ia mengumpulkan uang sendiri. Keinginannya untuk memandirikan orang lain pun sekarang tercapai.
Hingga 2008, usaha cimol Cika hanya mampu menopang biaya sekolah dan belajar di SMA.
Setelah itu, sambil kuliah di Harapan Bangsa, Purwokerto, ia mencoba membuka cabang di dekat Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pada masa inilah, Cika memodifikasi dan mengembangkan sayap usaha. Mulai dari mempromosikan kepada orang lain, bermitra dengan beberapa pedagang dan mulai menerapkan waralaba gratis.
Mulai dari grobokan (gerobak) plus banner dan lain-lain, dengan modal perangkat start up sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta ia berikan secara cuma-Cuma. Bahkan modal cimolnya pun gratis. Intinya, mitra dagangnya hanya tinggal berjualan saja, nyaris tanpa modal.
“Kalau ‘cappucino X’ atau ‘Pizza X’ menetapkan harus membayar sekian juta untuk bergabung, itu tidak saya lakukan. Kalau ada yang ingin bergabung, asal dia memang berjualan sendiri, dalam arti dia tidak mempunyai pekerjaan, saya akan memberikan secara gratis,” ujar Cika.
Para pedagang mitra usaha yang diberi nama Made Arizka, ini hanya menyetorkan uang setelah barang dagangannya habis. Jika ada sisa, maka mitra tak perlu membayar, cukup menegmbalikan dagangan yang tak laku.
"Inspirasinya tiba-tiba saja, karena saya ingin rezeki saya itu Insya Allah menjadi rezeki untuk orang lain. Saya sudah tertolong dengan cimol, saya juga menginginkan cimol menolong orang lain,” ucap Cika.
Sembilan tahun sudah usaha cimol Cika berjalan. Hari-harinya disibukkan dengan berbelanja kebutuhan produksi cimol di Pasar Ajibarang, Banyumas. Aktifitasnya dilanjutkan dengan membuat adonan bersama empat orang pekerjanya, melayani pembeli hingga otak-atik kalkulator dan mencatatkan pesanan para pedagang cimol yang menjadi mitranya.
“Saya bersyukur, dari tangan saya ini bisa membuat orang-orang yang susah seperti saya bisa berusaha dan punya harapan,” lanjutnya.
Di luar omzet dan keuntungan para mitra usahanya, dalam satu bulan Cika bisa meraup omzet sampai Rp 12 juta. Setiap bulan ia menyisihkan sebagian hasil usahanya itu, untuk pembelian satu paket peralatan starter kit franchise gratis yang nantinya diberikan kepada mitra usaha baru.
Made Arizka juga menerapkan gratis satu poin senilai Rp 1.000 untuk setiap mitra usaha yang membeli diatas Rp 50.000. Ia pun berencana menerapkan sistem kewirausahaan yang out of the box itu ke produk selain cimol.
“Saya ingin coba buka untuk keripik singkong,” tuturnya.
Kini, Made Arizka telah mengangkat taraf kehidupan setidaknya 60 orang ekonomi lemah dan pengangguran dengan menjadikan mereka pedagang cimol dengan “modal dengkul”. Ketika mitra usaha itu tersebar di sekitar lebih dari 10 kecamatan, mulai dari Kecamatan Ajibarang, Wangon, Cilongok, hingga Purwokerto.
Hal inilah yang membuat Cika terpilih menjadi salah satu dari lima orang penerima Apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014 di bidang Pendidikan, Lingkungan, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Kesehatan serta Teknologi yang diselenggarakan PT Astra International Tbk.
“Saya bangga melihat mitra-mitra usaha ini bisa maju. Dari pengangguran, mereka sudah ada yang memiliki sepeda motor dari hasil jualan cimol, bahkan ada yang bisa merenovasi rumahnya,” kata Cika berkaca-kaca.
Cika mengaku sangat bahagia, ketika bisa berbagi. Karena itu, dia akan terus mengembangkan mitra usahany, sehingga bisa membantu lebih banyak lagi.
“Semoga kedua tangan saya bisa dijadikan perantara Allah untuk rezeki mereka,” katanya.
Cika membuktikan tidak ada keberhasilan yang hadir tiba-tiba tanpa usaha keras. Dan setelah kesuksesan itu dalam genggaman, menjadi tanpa arti jika tidak menularkannya kepada yang lain.
sumber : indopos-2014
